Informasi Hubungi cs@batik.or.id

Proses Akulturasi Budaya Batik Lasem

Share on Facebook
Pocket
Bookmark this on Google Bookmarks

Batik Lasem adalah salah satu warisan kebudayaan dari nenek moyang Indonesia yang dihasilkan di wilayah pedesaan sekitar kecamatan Lasem, kabupaten Rembang provinsi Jawa Tengah. Tiap warisan kebudayaan memiliki ciri khasnya tersendiri sesuai dengan kondisi obyektif memori masyarakat lokal. Batik Lasem memiliki ciri khas tersendiri seperti warna warna merah lasem yang konon tidak dapat ditiru pembuatannya oleh daerah lain. Oleh penduduk sekitar dikenal dengan nama abang getih pitik (merah darah ayam). Peredaran batiknya sendiri ketika di zaman keemasannya telah mencapai berbagai wilayah seperti Jawa, Sumatra, Malaka, Suriname, Bali, Gorontalo dsb.

Batik lasem bisa dikatakan merupakan ekspresi dari proses akulturasi budaya yang diakibatkan datangnya pedagang dari berbagai wilayah dan sempat berinteraksi dengan masyarakat lokal. Proses pencampuran budaya terlihat dari motif dan warna batiknya sendiri. Terjadi pengembangan terhadap hasil produksi batik. Beberapa wilayah yang diperkirakan mempengaruhi pembuatan batik Lasem adalah budaya Tiongkok, Jawa, Champa India Belanda dan Islam.

Perpaduan Budaya Dalam Motif Batik Lasem

Budaya Tiongkok terlihat dari motif burung phoenix (Hong), naga (Liong), unicorn (kilin) ikan mas, figur dewa-dewi, swastika, kelelawar, bunga pheony, bunga seruni, buah delima banyak ditemukan sekitar tahun 1800-1942. Pembatik sekaligus konsumennya sendiri sebelum tahun 1990an adalah Tionghoa selain komunitas Minangkabau, Palembang, Jambi, Bali dan Suriname. Warna budaya Jawa dalam batik Lasem terjadi dalam dua cara (1) kombinasi motif dan warna Jawa-Tiongkok pada desain batik Lasem, misalnya batik tiga negara yang memiliki warna merah, biru dan coklat/ soga. (2) diproduksi batik bernuansa Jawa di beberapa tempat sekitar Lasem, yaitu Kauman dan Warugunung. Batik jenis ini dihiasi dengan motif Jawa pedalaman (udan liris, kaung, ) yang dikombinasikan dengan motif khas Lasem seperti burung Hong dan tumbuh-tumbuhan lokal. Warna yang dipakai adalah coklat, biru dan putih/bledag. Pengaruh budaya Champa tertulis dalam buku Serat Badrasanti. Menyebutkan bahwa putri Na Li Ni dari Champa mengajarkan teknik pembatikan di Lasem kepada anak-anak dan tetangganya di daerah Kemandhung. Putri Na Li Ni adalah istri dari Bi Nang Un seorang nakhoda kapal dalam armada laut laksamana Ceng Ho dari dinasti Ming Tiongkok yang mendarat di pantai Regol lasem pada tahun 1413. Kajian terhadap gambar keramik Hoi Anh (Champa) abad 15 yang diangkat dari reruntuhan kapal di lepas pantai Vietnam. Motif tujuh titik (nyuk pitu), sisik, dan segi tiga (untu walang dan tumpal pucuk rebung). Beberapa peneliti barat memperkirakan batik Lasem dipengaruhi oleh motif kain Chintz asal Coromandel India. Perkiraan ini didasarkan bentuk stilisasi sulur tanaman berbunga pada Chintz amat mirip dengan motif Lung-lungan dan buket Lasem. Belanda memberi pengaruhnya sendiri pada motif Buketan walaupun tidak digambar secara naturalis sebagaimana pengusaha Belanda di Pekalongan. Buketan Lasem dibuat sekedarnya untuk menggambarkan kumpulan bunga tertentu. Penyederhanaan dilakukan karena efesiensi waktu dan biaya proses pembuatan. Awalnya konsumen dari batik Lasem adalah perempuan etnis suku Tionghoa, berubahnya segment pasar akibat dari pakaian gaya barat dengan perhitungan lebih praktis. Pengusaha batik terpaksa mengalihkan pasar kepada non Tionghoa. Untuk menghormatinya mayoritas konsumen baru yang beragama Islam perubahan desain dilakukan seperti penggunaan warna hijau sebagai warna dasar kain. Dikurangi motif hewan dan ditambahkan motif flora lokal seperti cipiran, latoha, lombokan dsb.

Adopsi budaya sangatlah memungkinkan terjadi di tanah Nusantara karena secara geopolitik strategis. Keterbatasan teknologi transportasi membuat interaksi penduduk lokal dengan orang dari negeri seberang berlangsung dalam waktu cukup lama. Pelayaran pada masa lalu ketika mesin uap belum ditemukan sangat tergantung oleh arah angin. Perubahan arah angin tidak dalam waktu singat dapat terjadi prosesnya bisa berbulan-bulan, sehingga para pelaut harus menunggu waktu paling tepat untuk melanjutkan pelayaran. Ditengah waktu menunggu itulah terjadi komunikasi antar kedua belah pihak sehingga dapat saling mempelajari budaya masing-masing. Bandingkan dengan globalisasi yang berhasil menjadi mainstream dunia saat ini. Ketika teknologi terus berkembang dan berhasil menjawab tantangan dunia komunikasi sehingga jarak bukan menjadi masalah yang terlalu signifikan. Berbagai bentuk budaya terpampang jelas dihadapan kita melalui kotak ajaib bernama televisi. Disinilah kearifal lokal dibutuhkan sebagai penyaring bagi hilir mudiknya tradisi dari luar. Bukan tidak mungkin terjadi kontradisksi diantara keduanya. Sehingga kita sebagai penganut dan apabila memungkinkan suatu hari nanti ketika menjadi pemeroduksi budaya baru mampu menyisihkan sisi yang kita pandang tidak baik. Dalam melakukan pemilahan dibutuhkan pemahaman akan sejarah, sehingga dapat diketahui perjalanan terbentuknya budaya. Sehingga tidak dengan mudah melakukan penghakiman secara sepihak terhadap masuknya gaya hidup dari luar. Karena setiap peradaban mempunyai kondisi obyektif tersendiri untuk tumbuh. Sekarang bagaimana kita memiliki subyektifitas dituntun oleh ilmu pengetahuan untuk melakukan penilaian.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Contact Us





Nama (dibutuhkan)

Alamat Email (dibutuhkan)

Alamat/Office

No. Telp/HP

Keperluan

Masukan Pesan

captcha

Atau silahkan kirim email ke

cs@batik.or.id

Contoh Batik Pekalongan

Contoh Batik Motif Cirebon

Contoh Batik Solo

Contoh Batik Motif Laseman

Like Us Facebook

Trafficking Batik Foundation