Informasi Hubungi cs@batik.or.id

Batik Djawa Hokokai

Share on Facebook
Pocket
Bookmark this on Google Bookmarks

Antara tahun 1942-1945, Indonesia dijajah oleh Jepang. Sekitar masa itu, muncul jenis batik pesisir yang berbeda daripada yang sebelumnya, terutama di Pekalongan dan sekitarnya seperti Kedungwuni dan Batang.
Batik itu disebut Batik Djawa Hokokai, menurut nama organisasi bentukan Jepang yang beranggotakan orang Indonesia, tetapi dipimpin oleh kepala pemerintahan militer Jepang.

Ciri utamanya adalah warnanya sangat beraneka ragam. Pada satu kain bisa lima sampai enam warna dengan kombinasi yang berani seperti merah muda dengan hijau atau ungu dengan kuning.
Pewarnaan dilakukan dengan warna kimia, dengan pencelupan berulang-ulang. Berarti membutuhkan pelorodan malam dan penutupan kembali dengan malam berulang-ulang pula. Ada yang mengatakan, batik Djawa Hokokai juga memakai sistem colet, tapi persentasenya kecil sekali.

Menurut Eiko Adnan Kusuma, seorang kolektor batik, teknik pewarnaan batik itu mirip dengan yuzen, yaitu teknik pewarnaan kain yang populer di Jepang sejak tahun 1700. Ciri-cirinya: warna cenderung terang, gambar motif sesuai aslinya dan efek tiga dimensi yang diperoleh dari permainan warna.

Kalau efek tiga dimensi pada yuzen diperoleh dengan keterampilan menggunakan kuas, maka pada kain Djawa Hokokai merupakan hasil ketelitian pembatik membubuhkan malam dan memberi isen-isen yang sangat halus.
Motif utama batik ini, berupa bunga-bungaan berukuran besar. Bunga yang sering muncul adalah peony, seruni, sakura dan bunga-bunga yang pernah ada sebelum zaman Jepang. Seperti layaknya batik pesisir, ragam hiasnya bersifat naturalis. Motif lain yang sering muncul adalah kupu-kupu dengan sayap warna-warni, burung merak dan kipas. Kupukupunya besar, bukan sekadar motif tambahan seperti sebelum zaman Jepang.

Motif itu diatur seperti pada kain batik terang bulan, yaitu pada dua pinggir kain. Susunan motif utama seperti ini oleh orang Jepang disebut sushomoyo. Susho artinya motif border bawah dan ditemui juga pada kimono yang motifnya penuh dan ramai di bagian bawah, tetapi makin ke atas makin kecil atau makin jarang.
Kalau batik terang bulan biasa memiliki latar polos, sebaliknya latar batik Djawa Hokokai dipenuhi motif yang lebih kecil, biasanya motif khas Indonesia seperti tanahan semarangan, kawung, atau parang. Tanahan semarangan yang motifnya kecil-kecil mulai dibuat oleh pembatik Cina peranakan di Solo tahun 1940 dan disukai wanita Cina peranakan di Semarang.

Yang menarik adalah ragam hiasnya dibatik memenuhi setiap senti kain. Jarang sekali ada bidang yang kosong. Beberapa pihak berpendapat bahwa motif rumit di seluruh permukaan kain, dan aneka warna yang memerlukan proses pencelupan berulang-ulang itu mestinya ada alasannya. Masa itu memperoleh kain putih untuk bahan pembatikan sulit sekali. Selain itu terjadi krisis pekerjaan. Supaya tidak terjadi pengangguran akibat kelangkaan kain, sehelai kain dibatik serumit mungkin dan dicelup berulang-ulang agar makan waktu pembuatan selama mungkin.

Batik Djawa Hokokai memiliki kepala, badan, motif pinggir dan sered di sisi paling pinggir dari kepala. Bentuknya hampir selalu kain panjang dua sisi, artinya pada satu badan terdapat dua desain yang berbeda. Mungkin karena kelangkaan kain, sehelai batik bisa dipakai pagi dan sore tanpa kentara kalau kainnya itu-itu juga. Karena itu bila pada sehelai kain terdapat dua desain yang berbeda, atau desainnya sama tetapi warnanya yang satu gelap yang satu terang, kain itu disebut kain pagisore. Warna yang lebih cerah biasanya dipakai untuk pagi hari dan yang lebih gelap untuk sore hari. Kain seperti ini sudah ada sebelum zaman Jepang.

Tidak benar kalau kain panjang ini dikatakan dibuat untuk kimono. Bentuk pagi sorenya tidak memungkinkan ia dipotong untuk dijadikan kimono.

Walaupun batik Djawa Hokokai termasuk batik halus yang indah, jarang sekali cap atau tanda tangan pembuatnya diterakan. Mungkin mereka tidak mau masyarakat luas mengetahuinya. Kalau mengingat saat itu sulit sekali mendapat kain putih halus dan bahan pembatikan yang baik, mungkin sekali bahan-bahan pembuat batik Djawa Hokokai dipasok oleh Jepang, dengan imbalan kain batik yang sudah jadi.

Ada yang menduga batik halus itu dipesan oleh orang Jepang untuk istri mereka yang orang Indonesia atau untuk dihadiahkan kepada orang Indonesia dan Cina peranakan kelas atas di daerah Pekalongan yang telah membantu mereka.

Menurut Iwan Tirta, ditinjau dari warnawarninya yang semarak, batik itu sesuai dengan selera wanita Cina peranakan kelas atas di Pekalongan.
Walaupun nama pembuat tidak diterakan, dilihat dari kehalusannya diduga kain-kain itu dibuat di pembatikan-pembatikan milik Cina peranakan, Indo-Eropa dan Indo-Arab yang terkenal halus batikannya. Rens Heringa menyebut nama Oey Soe Tjoen dan Oey Siok Kiem dari Kedungwuni, Oei Khing Liem dan Eliza van Zuylen dari Pekalongan.

Pada zaman Jepang, Oey Soe Tjoen dan Eliza van Zuylen diketahui membuat obi (ikat pinggang untuk kimono) yang dibatik dan kain panjang pagi sore atas perintah Jepang. Keluarga Eliza van Zuylen tidak diinternir seperti orang Eropa dan orang IndoEropa lain, karena keahlian mereka membuat batik dibutuhkan Jepang. Oey Siok Kiem dari Kedungwuni diketahui tercantum namanya pada sehelai batik Djawa Hokokai yang menjadi koleksi Los Angeles County Museum of Art. Mereka membuat batik yang gayanya bukan seperti gaya mereka yang biasa.. mungkin menuruti permintaan pemesan.

Artikel ini diulas dari Buku batik pesisir Pusaka Indonesia Coleksi Hartono Sumarsono

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Contact Us





Nama (dibutuhkan)

Alamat Email (dibutuhkan)

Alamat/Office

No. Telp/HP

Keperluan

Masukan Pesan

captcha

Atau silahkan kirim email ke

cs@batik.or.id

Contoh Batik Pekalongan

Contoh Batik Motif Cirebon

Contoh Batik Solo

Contoh Batik Motif Laseman

Like Us Facebook

Trafficking Batik Foundation