Informasi Hubungi cs@batik.or.id

Batik Pesisir Pusaka Indonesia

Share on Facebook
Pocket
Bookmark this on Google Bookmarks

Batik adalah kain yang. ragam hiasnya dibuat Bdengan mempergunakan malam sebagaibahan perintang warna, sehingga zat warna tidak dapat mengenai bagian kain yang tertutup malam saat pencelupan. Untuk membubuhkan malam ke atas kain, dipergunakan canting, yaitu sebuah alat kecil berupa semacam mangkuk berujung pipa dari tembaga, yang diberi gagang kayu atau bambu.

Akibat peningkatan permintaan akan batik, pada pertengahan abad XIX, mulai dikembangkan batik yang pembubuhan malamnya dilakukan dengan lempengan logam bermotif. Alat itu biasa disebut “cap” dan hasilnya disebut “batik cap”, sedangkan batik yang digambar dengan canting lantas disebut _“batik tulis”. Batik cap tidak sehalus batik tulis, tetapi pembuatannya jauh lebih cepat.

Tahun 1970-an muncul tekstil bermotif batik yang populer disebut “batik printing”. Batik printing dihasilkan tanpa mempergunakan teknik membatik, artinya tidak memakai perintang warna. Motif batik dibubuhkan pada kain dengan mesin cetak yang kini sudah dikomputerisasi. Tekstil ini dapat dihasilkan dalam waktu singkat dan dalam jumlah banyak. Akibatnya harganya jauh lebih murah daripada batik cap, apalagi batik tulis. Yang akan kita bicarakan di sini hanyalah batik tulis.

Metode merintang warna dalam pembuatan ragam hias pada kain sebetulnya sudah lebih dari seribu tahun dikenal di pelbagai bagian dunia. Zat perintang warnanya beragam dan pembubuhannya bukan dengan canting. Selain di Mesir, Cina, India dan beberapa kawasan Asia yang lain, termasuk Timur Tengah, metode merintang warna ditemukan juga di beberapa tempat di Afrika Barat. Tidak diketahui dengan pasti di mana metode itu pertama lahir. Apakah lahir di suatu tempat lain diperkenalkan ke tempat-tempat lain? Ataukah lahir di beberapa tempat yang tidak saling berhubungan?

Yang jelas, di Pulau Jawa-lah metode pembatikan berkembang paling subur dan menghasilkan kainkain batik dengan ragam hias paling kaya, teknik pewarnaan paling berkembang dan mutu pengerjaan paling halus dan paling cermat, walaupun metode perintang warna ditemukan pula di beberapa pulau lain di Nusantara dengan zat perintang warna dan alat yang berbeda-beda.

Tidak diketahui dengan pasti kapan batik mulai dibuat di Jawa. Namun batik tulis yang dibuat dengan canting dan malam, menurut Robyn Maxwell dalam Textiles of Southeast asia: Tradition, Trade and Transformation, mungkin baru berkembang pada awal abad XVII. Sebelum canting ditemukan, pembubuhan perintang warna dilakukan dengan alat lain, seperti umpamanya tangkai bambu.

Pada awal abad XX, G.P. Rouffaer merupakan ilmuwan pertama Belanda yang meneliti batik. Penelitiannya hanya difokuskan pada batik keraton yang didominasi warna cokelat dari tanaman soga tingi, soga tengerang di samping warna indigo, hitam dan putih. Ragam hias batik Solo-Yogya banyak menunjukkan pengaruh kebudayaan Hindu-Jawa.

Penampilan batik yang dibuat di pesisir utara Jawa berbeda daripada yang dibuat di Solo-Yogya. Batik dari pesisir utara P. Jawa berlatar putih dengan motif berwarna. Masa itu warna biru atau nila diperoleh dari tanaman indigo/tarumltom, sedangkan warna merah dari akar tanaman mengkudu. Saat itu batik merupakan pakaian laki-laki maupun perempuan.

Mulai tahun 1980-an, antropolog Rens Heringa meneliti batik dari pesisir utara Jawa, begitu pula Harmen C. Veldhuisen, seorang sosiolog dan kolektor batik. Keduanya berasal dari Belanda. Mereka tidak sependapat dengan Rouffaer yang menyatakan batik pesisir yang berwarna-warni mestinya berkembang kemudian. Dalam Five Centuries of Indonesian Textiles, Rens Heringa mengemukakan bahwa penelitian lebih baru mengungkapkan: “…perkembangan gaya batik berwarna cerah dari pesisir utara Jawa, secara historis tidak dapat dipertanggungjawabkan bila dikaitkan dengan kematian perdagangan cita dari Gujarat dan Pantai Koromandel pada akhir abad XVIII atau awal abad XIX.” Batik pesisir diperkirakan sudah mulai berkembang sejak abad XV.

Kita tahu kalau awal abad XV, kota-kota di pantai utara P. Jawa sudah di bawah kekuasaan kerajaankerajaan Islam dan menjadi pusat perdagangan yang berhubungan dengan Malaka di Semenanjung Melayu, Samudera Pasai di Sumatra, Ternate, Tidore, kota-kota pantai di Kalimantan. Sulawesi, Maluku, dan pedagang mancanegara. Kaum santri sampai saat ini masih banyak yang menjadi saudagar yang andal di pelbagai bidang.

Peter Carey, ilmuwan Inggris yang meneliti sejarah )awa, dalam Enchanted Fabric ”menyatakan pesisir utara menjadi tempat lahir kebudayaan yang unik. Kebudayaan ini memiliki masa gemilangnya antara kejatuhan Majapahit di awal abad XVI sampai Perang Diponegoro (1825-1830) berakhir. Pesisir jawa menjadi tempat pertemuan pedagang, pelawat maupun agamawan dari India, Cina dan pelbagai penjuru Asia Timur. Di sinilah pendatang Cina, Arab dan Gujarat dari India Barat memperkenalkan agama Islam. Di sini pula para penjelajah Barat pertama pada abad XV dan XVI mendarat. Daerah pantai terletak jauh dari keraton. Penduduknya _ lebih terpapar dan lebih mudah menyerap pengaruh luar, sehingga pesisir utara Jawa menjadi “belanga peleburan”. Pengaruh itu bisa datang dari daerah ‘lain di Nusantara, bisa juga dari para pendatang India, Cina, Arab, Persia, Turki, Siam, Portugis, dan Belanda yang menetap dan menikah dengan penduduk setempat.

Perpaduan kebudayaan ini masih tetap tercermin pada batik yang dihasilkan di pesisir utara jawa dan batik pesisirlah yang akan kita jumpai di buku ini, khususnya yang dibuat antara 1870-1960-an. Batik pesisir umumnya lebih berwarna-warni dan ragam biasnya lebih naturalistis. Namun batik pesisir pun banyak yang memiliki makna simbolis.

Batik pesisir dihasilkan di Jakarta (dulu disebut Batavia, Betawi), Indramayu, Cirebon, Tegal, Pekalongan dan sekitarnya, Kudus, Juwana, Lasem, Tuban, Gresik, Sidoarjo, Madura, dan sejumlah tempat lain. Batik Banyumas, Garut, dan Tasikmalaya dimasukkan pula ke dalam kelompok ini, walaupun tempat-tempat itu terletak di pedalaman. Begitu pun batik Jambi yang dibuat di Sumatra.

Batik pesisir ada yang dibuat oleh kaum santri dan biasanya menggambarkan flora dan hiasan non-figu-ratif. Lar dan burung sering distilasi seperti tumbuhtumbuhan. Selain sarung, mereka juga membuat kain ikat kepala atau destar dan selendang. Kaligrafi Arab juga merupakan salah satu ciri batik yang dibuat oleh pembatik santri. Di Bengkulu banyak disukai kain basurek, artinya kain bersurat. Kain itu disebut demikian, karena bertuliskan huruf-huruf Arab. Kain itu tadinya dibuat di pantai barat lama, di antaranya di Cirebon, walaupun ada yang dibuat di pembatikan milik orang keturunan Cina di Palmerah, Batavia.

Kain pesisir terdiri atas dua bagian yang disebut “kepala” dan” badan”. Kepala dihias lebih rumit. Ragam hias yang banyak menghias kepala kain pesisir berupa segitiga sama kaki yang disebut pucuk rebung dan hiasan yang berbentuk garis membujur yang disebut papan.

 

Pedagang Cina yang datang pada abad XIV-XV, membawa sutera bersulam dan juga porselin yang bergambar naga, burunghong, kilin, banji (swastika), bunga-bunga yang ada di Cina seperti bunga peony, bunga plum, juga burung bangau dsb. Gambargambar itu diadaptasi pada batik dan dikombinasikan dengan ragam hias yang sudah merupakan bagian dari kebudayaan Indonesia seperti kawung, parang dsb. Sumbangan daerah Lasem terhadap perkembangan batik pesisir sangat besar.

Sejak pertengahan abad XIX sampai 1942 batik mendapat pengaruh besar dari kaum Indo-Eropa, khususnya Indo-Belanda. Wanita Indo-Belandalah yang memperkenalkan ragam hias buketan sehingga

 

mendominasi batik pesisir selama berpuluh tahun dan ditiru oleh golongan Cina peranakan. Sampai sekarang pun ragam hias buketan pada batik pesisir masih dibuat oleh pelbagai kalangan.

Ragam hias seperti sawat, lar, kawung dan pelbagai ragam hias lain yang merupakan motif utama pada batik Jawa Tengah, di Pesisir dijadikan tanahan (latar). Batik pesisir banyak yang diberi tanda tangan orang yang memproduksinya. Umpamanya: MV. E. van Zuylen, Oey Soe Tjoen.

Produksi batik pesisir tumbuh dengan pesat sekitar tahun 1870-an, didukung oleh kemajuan transportasi dengan ‘ adanya kereta api dan kapal uap. Pedagang dan penghasil batik berusaha memenuhi selera konsumen yang beragam, yang senantiasa menuntut inovasi baru. Akibatnya, batik yang dibuat di sepanjang pesisir, terutama di daerah Pekalongan, coraknya sangat dinamis.

Artikel ini diulas dari Buku batik pesisir Pusaka Indonesia Coleksi Hartono Sumarsono

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Contact Us





Nama (dibutuhkan)

Alamat Email (dibutuhkan)

Alamat/Office

No. Telp/HP

Keperluan

Masukan Pesan

captcha

Atau silahkan kirim email ke

cs@batik.or.id

Contoh Batik Pekalongan

Contoh Batik Motif Cirebon

Contoh Batik Solo

Contoh Batik Motif Laseman

Like Us Facebook

Trafficking Batik Foundation