Informasi Hubungi cs@batik.or.id

Sejarah Kota Lasem Rembang

Share on Facebook
Pocket
Bookmark this on Google Bookmarks

Nama lasem udah tak asing lagi di kalangan sejarawan atau kalangan kolektor batik lasem adalah sebuah kota kecil yang terletak di sebelah timur Kab. Rembang dan memang lasem sendiri adalah sebuah kecamatan di Kab Rembang, Nama Lasem lebih terkenal dari pada Rembang karna lasem ini lebih tua dari pada Rembang, Jika anda berkunjung ke lasem atau sedang lewat JL Pantura semarang Surabaya tentunya anda melewati yang namanya lasem.

Di Lasem banyak peninggalan sejarahnya seperti Banyaknya bangunan bangunan Cina yang sudah sangat tua karna dalam catatan sejarah cina pertama kali menginjak tanah air ini mendarat di daerah lasem Rembang jawa tengah sehingga sesepuhnya cina Indonesia itu berada di daerah lasem. Begitu juga dari segi Islam di daerah lasem ini banyak pondok pesantren yang berdampingan dengan etnis cina mereka hidup rukun adem ayem tampa membedakan suku ras dan agama. Lasem ini juga mempunyai batik yang sudah dari zaman dahulu sebagaimana pekalongan dan batang serta kudus.

Berikut ini sejarah atau asal usul kota lasem yang kami ulas dari Yayasan sunan bonang dari tahun 1300san mari kita pelajari

1. Sekitar tahun 1351 M yang menjadi ratu di wilayah Lasem adalah seorang putrid yang bernama Dewi Indu (Indu Dewi). Beliau adalah putri dari Raden Kuda Merta dengan Dewi Prabu Hayam Wuruk di Wilwatika.

2. Karena kecantikannya beliau diberi gelar Dewi Purnama Wulan.

3. Suaminya bernama Pangeran Rajasa Wardana dengan gelar Pangeran Panji Maladresmi. Beliau juga seorang Dang Puhawang (nahkoda) Wilwatikta, yang berkuasa di pelabuhan Kaerangan dan pelabuhan Regol Lasem merangkap sebagai Adipati di Metahun.

4. Dalam zaman pemerintahan Dewi Indu, masyarakat Lasem sangat tenteram dan makmur karena beliau sangat bijaksana dalam memegang pemerintahan.

5. Waktu itu masyrakat Lasem beragama Budha dan Syiwa.

6. Dari hasil perkawinan Dewi Indu dengan Pangeran Rajasa Wardhana menurunkan Pangeran Bodro Wardhana. Bodro Wardhana menurunkan P. Wijaya Bodro, P. Wijaya Bodro berputra P. Bodronolo.

7. Dewi Indu meninggal tahun 1382 M, sedang P. Rajasa Wardhana meninggal tahun 1383 M.

8. Sekitar tahun 1413 M datang seorang nahkoda bernama Bi Nang Un. Ia mempuyai 2 orang putra, lelaki bernama Bi Nang Na, dan yang perempuan bernama Bi Nang Ti (Putri Campa)

9. P. Bodronolo kawin dengan Bi Nang Ti (Putri Campa) dan mempuyai 2 orang putra P. Wirabadja dan P. Santi Badjra.

10. Putri Bi Nang Ti setelah kawin dengan P. Bodronolo namanya diganti menjadi Winarti Kusuma Wardhani.

11. Tahun 1468 M P. Bodronolo meninggal, dengan meninggal kan wasiat kepada anaknya :

a. Supaya abu layonya di makamkan kumpul dengan istrinya di Puntuk Regal.

b. Supaya putranya yang bernama P. Wirabadjra pindah ke Bonang.

c. Supaya rakyat nanti diperbolehkan memeluk agama Islam.

12. Selanjutnya yang menjadi dan menduduki Adipati Lasem ialah P. Wirabadjra.

13. P. Wirabadjra menjadi adipati pada tahun 1470 M. Ia tidak bertempat tinggal di Pura Kriyan, tetapi pindah di bumi Bonang Binangun, dekat makam orang tuanya di Puntuk Regal. Adapun Pura Kriyan ditempati adiknya yang bernama P. Santi Badjra.

14. Ketika P. Wirabadjra membangun dan berkuasa di Kadipaten Binangun, masyarakat nelayan yang biasa berlayar ke Tuban Gresik dan Ngampel sudah memeluk Agama Rasul (Islam).

15. P. Wirabadjra berputra P. Wiranagara, yang pada waktu kecilnya sudah berguru ke Ngampel, dan akhirnya menikah dengan putra pertama Maulana Rohmat Sunan Ngampel yang bernama Malekhah.

16. Setelah P. Wirabadjra meninggal, diganti oleh putranya yang bernama P. Wiranagara. Ia menjadi Adipati hanya 5 tahun.

17. P. Wiranagara menikah dengan putrid Malekhah mempunyai 2 putra :

a. Solekhah (istri P. Aria Tun Bun Nahkoda Demak).

b. Seorang anak yang mati etika masih bayi.

18. Tahun 1479 M Pangeran Wiranagara meninggal, pemerintahan Kadipaten Binangun dipegang oleh Putri Malekhah (janda P. Wiranegara) yang masih berumur 28 tahun.

19. Tahun 1480 M, Kadipaten Binangun dipindah ke Lasem oleh Malekhah dan bertempat di Bumi Cologawan berhadapan dengan rumah kepanggenan Kriyan yang ditempati oleh P. Santi Puspa.

20. Rumah Kadipaten Malekhah menghadap ke selatan sebelah utara jalan besar, banyak pohon sawo kecil dan kembang kantil.

21. Adapun bekas kadipaten Bonang, disuruh menempati adiknya yang bernama R. Makdum Ibrahim (putra R. Rahmat).

22. Makdum Ibrahim seorang jejaka yang bertugas sebagai guru ngaji dan Modin.

23. Ketika berumur 30 tahun, beliau diwisuda oleh Sunan Agung Ngampel sebagai wali Negara Tuban, dalam hal keagamaan dan ketauhidan dengan pangkat Sunan, dan menempati bekas ndalem/rumah kakaknya Malekhah.

24. Di Bonang, Makdum Ibrahim bertugas pula menjaga dan mengawasi makam Putri Campa (Bi Nang Ti) sekalian di Puntuk Regol, dan makam P. Wirabadjra serta P. Wira Negar di Bumi Keben.

25. Batu yang terdapat di makam Putri Campa diratakan, batunya digunakan untuk sujud (pasujudan).

26. Putri Malekhah memindahkan Kadipaten Binangun ke Lasem dengan maksud :

a. Mendekati P. Sati Puspa, untuk digunakan benteng pengayoman dan penasehat di dalam memegang pusat pemerintahan Lasem.

b. Mengingat bahwa P. Sati Puspa adalah seorang yang dicintai dan disegani oleh masyarakat Lasem, dan warga nelayan dari pesisir Demak sampai Sedayu.

c. Supaya hatinya terhibur sebab ditinggal mati anaknya dan ditinggal anaknya Solekhah yang dibawa suaminya ke Demak yang bernama Aria Tum Bun.

27. Untuk menghibur hatinya, Malekhah membuat gedung dan pertamanan yang diberi nama Taman Setya Tresna, yang di kemudian hari berubah nama menjadi Caruban.

28. Setelah Makdum Ibrahim menjadi Wali, beliau bertambah giat didalam menyiarkan agama Islam dari Lasem sampai Tuban.

29. Sebaliknya Malekhah karena selalu bergaul dengan P. Sati Puspa malah termakan oleh ilmu dan wejangannya, sehingga ia berani meninggalkan shalat dan puasa, sehingga Sunan Bonang kecewa dan tidak mentaati perintah Malekhah untuk menjaga makam Putri Campa dan makam Keben. Selanjutnya pulang ke Pranggakan Tuban sampai berbulan-bulan.

30. Putri Malekhah menjadi janda sampai umur 39 tahun dan memegang pemerintahan dalam keadaan aman dan tenteram atas bantuan P. Sati Puspa.

31. Setelah Malekhah meninggal, kekuasaan Kadipaten Lasem dirangkap oleh P. Sati Puspa dengan dibantu oleh adiknya yang bernama P. Santi Yoga yang diperintahkan menempati Kadipaten Cologawan.

32. Karena ditinggal ayahnya ke Majapahit, P. Sati Puspa yang lahir sekitar tahun 1451 M, ketika berumur 18 tahun, diutus ayahnya menempati rumah Pura Kriyan bersama ibunya beserta adik-adiknya yang berjumlah 9 orang. Hingga umur 39 tahun ia belum mau kawin dahulu sebelum adik-adiknya kawin. Adapun adik-adiknya adalah :

1. Sulastuti, dikawin oleh Adipati Matedun.
2. Santowiro, menjadi Ky. Ageng Bedok.
3. Sulantri, dikawin oleh Tumenggung Pamotan.
4. Sulandjari, dikawin oleh Ky. Ageng Ngatoko di Karangasem dan Genuk.
5. Silarukmi, dikawin oleh Demang Ngadem.
6. Santi Yoga alias Ny. Agung Gede, sebagai Kepala Patol Gede – Sarang.
7. Santi Darmo, Demang Bakaran, daerah Juwono Jakenan.
8. Selogati istri Ky. Ageng Sutiana Criwik.
9. Santi Kusuma.

33. Santi Kusuma lahir tahun 1468 M. Umur 1 tahun ditinggal pergi ayahnya ke Majapahit selama 10 tahun, umur 2 tahun ditinggal mati ibunya.

34. Santi Kusuma kerapkali diajak kakaknya berlayar dan sowan Eyangnya yang bernama Sunan Bejagung ke Tuban. Sunan Bejagung adalah Adipati Tuban.

35. Umur 19 tahun Santi Kusuma masuk Islam dengan nama R. Mas Said (P. Lokawijaya) dan sangat erat hubungannya dengan Sunan Bonang.

36. P. Sati Puspa berputra P. Kusuma Bodro, P. Kusuma Bodro berputra P. Santi Wiro, Santi Wiro berputra P. Tedjakusuma I.

37. P. Tedjakusuma I menurunkan P. Tedjakusuma II-III-IV-V.

38. P. Tedjakusuma I menikah dengan putri Sultan Pajang dan diangkat menjadi Adipati Lasem TAHUN 1585 M.

39. Tedjakusuma V menurunkan R. Panji Margana (Ki Ageng Tulbaya) R. Panji menurunkan R. P. Witono, R. Witono menurunkan R. P. Khamzah.

40. Tedjakusuma I, pada tahun 1588 M mendirikan Masjid Lasem, bertempat di sebelah barat alun-alun.

41. Tedjakusuma I, seorang pertapa di Puntuk Punggur. Dan ketika masih kecil diberi parap (gelar) ibunya Bagus Serimpet.

42. Untuk menyebarkan agama Islam di Lasem, Tedjakusuma I mendatangkan seorang guru dari Tuban bernama Syeh Maulana Sam Bua Samarkandi pada tahun 1625 M, dan pada akhirnya Syeh Sam Bua diambil menantu, dikawinkan dengan putrinya dari garwa selir.

43. Tedjakusuma I, alias Ky. Ageng Punggur alias Bagus Serimpet wafat pada tahun 1632 M dalam usia 77 tahun, dimakamkan di belakang Masjid Kota Lasem dibelakang imaman.

44. Syeh Maulana Sam Bua Samarkandi wafat tahun 1653 M dalam usia 61 tahun dimakamkan di sebelah utara serambi masjid kota Lasem.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Contact Us





Nama (dibutuhkan)

Alamat Email (dibutuhkan)

Alamat/Office

No. Telp/HP

Keperluan

Masukan Pesan

captcha

Atau silahkan kirim email ke

cs@batik.or.id

Contoh Batik Pekalongan

Contoh Batik Motif Cirebon

Contoh Batik Solo

Contoh Batik Motif Laseman

Like Us Facebook

Trafficking Batik Foundation